https://www.superriau.com/

New Delhi Kremasi 600 Lebih Jenazah Pasien COVID-19 dalam Sehari

New Delhi Kremasi 600 Lebih Jenazah Pasien COVID-19 dalam Sehari

 Sanjay punya peran sebagai pendeta di Krematorium New Delhi India Tiap harinya, ia berurusan dengan begitu banyak jenazah pasien COVID-19 India sehingga terpaksa diperluas ke tempat parkir yang berdekatan dengan lokasi kremasi.

Berdasarkan data dari tiga krematorium di ibu kota, Wali Kota North Delhi Municipal Corporation (NDMC) Jai Prakash mengklaim bahwa pada Senin pekan ini, Delhi telah mengkremasi 631 jasad dan melakukan 22 pemakaman jenazah, demikian dikutip dari laman CNN.

Sanjay pun sudah tak mampu menghitung jumlah jenazah yang ia kremasi. "Saya tidak bisa menghitung," katanya kepada AFP tentang jumlah jenazah pasien Covud 19 yang dibawa ke fasilitas itu.

"Kami mulai saat matahari terbit dan kremasi berlanjut hingga lewat tengah malam," katanya di samping tumpukan kayu bakar dan tumpukan abu yang membara, demikian dikutip dari laman France24, Kamis (29/4/2021).

Keluarga berduka di pinggir jalan lingkungan berpenghasilan rendah ini saat mereka menunggu giliran kerabat yang terbungkus kain putih dan karangan bunga marigold kuning untuk dikremasi.

Ambulans datang silih berganti secara teratur membawa lebih banyak jenazah pasien COVID-19.

Orang-orang yang tinggal berdekatan dengan krematorium selalu mencium bau tubuh yang dibakar serta mendengar tangisan keluarga yang berduka.

Rumah sakit India sedang berada di ambang kehancuran akibat led.

Korban tewas akibat COVID-19 yang terus berjatuhan membuat jasad korban harus antre untuk dikremasi. Sanjay punya peran sebagai pendeta di Krematorium New Delhi India. Tiap harinya, ia berurusan dengan begitu banyak jenazah pasien COVID-19 India sehingga terpaksa diperluas ke tempat parkir yang berdekatan dengan lokasi kremasi

Berdasarkan data dari tiga krematorium di ibu kota, Wali Kota North Delhi Municipal Corporation (NDMC) Jai Prakash mengklaim bahwa pada Senin pekan ini, Delhi telah mengkremasi 631 jasad dan melakukan 22 pemakaman jenazah, demikian dikutip dari laman CNN.

 

anjay pun sudah tak mampu menghitung jumlah jenazah yang ia kremasi. "Saya tidak bisa menghitung," katanya kepada AFP tentang jumlah jenazah pasien Covid19 yang dibawa ke fasilitas itu.

"Kami mulai saat matahari terbit dan kremasi berlanjut hingga lewat tengah malam," katanya di samping tumpukan kayu bakar dan tumpukan abu yang membara, demikian dikutip dari laman France24, Kamis (29/4/2021).

Keluarga berduka di pinggir jalan lingkungan berpenghasilan rendah ini saat mereka menunggu giliran kerabat yang terbungkus kain putih dan karangan bunga marigold kuning untuk dikremasi.

Ambulans datang silih berganti secara teratur membawa lebih banyak jenazah pasien COVID-19.

Orang-orang yang tinggal berdekatan dengan krematorium selalu mencium bau tubuh yang dibakar serta mendengar tangisan keluarga yang berduka.

Rumah sakit India sedang berada di ambang kehancuran akibat ledakan kasus virus Corona COVID-19.

Besi Kremasi Meleleh

Jasad korban virus corona COVID-19 berbaris untuk dikremasi di tempat kremasi di New Delhi, India, Rabu (28/4/2021). Krisis COVID-19 di India diprediksi akan terus berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. (Money SHARMA/AFP)

Kebanyakan pasien meninggal akibat kurangnya tindakan medis serta kekurangan tempat tidur di Rumah Sakit hingga pasokan obat-obatan dan oksigen.

Krematorium bekerja lembur, cerobong asapnya retak dan rangka besinya meleleh karena terus digunakan.

Kayu dilaporkan langka di beberapa tempat dan beberapa keluarga disuruh membawa sendiri untuk dibakar.

Banyak pihak krematorium mengatakan jumlah kematian resmi akibat virus itu tidak mencerminkan jumlah tambahan jenazah yang mereka tangani.

Selama tiga hari terakhir, krematorium di daerah Seemapuri di timur laut Delhi telah melakukan lebih dari 100 pemakaman sehari, dan kehabisan ruang.

"Kami mencoba mengakomodasi kremasi di jalan setapak dan di mana pun kami dapat menemukan tempat, tetapi jenazah itu terus berdatangan," kata koordinator Jitender Singh Shanty, dengan sorban kuning, jas hazmat biru yang ia gunakan.

"Kami harus meminta pihak berwenang untuk mengizinkan kami memperluas fasilitas ke tempat parkir," kata Sikh.

 

 

 

Kebanyakan pasien meninggal akibat kurangnya tindakan medis serta kekurangan tempat tidur di Rumah Sakit hingga pasokan obat-obatan dan oksigen.

Krematorium bekerja lembur, cerobong asapnya retak dan rangka besinya meleleh karena terus digunakan.

Kayu dilaporkan langka di beberapa tempat dan beberapa keluarga disuruh membawa sendiri untuk dibakar.

Banyak pihak krematorium mengatakan jumlah kematian resmi akibat virus itu tidak mencerminkan jumlah tambahan jenazah yang mereka tangani.

Selama tiga hari terakhir, krematorium di daerah Seemapuri di timur laut Delhi telah melakukan lebih dari 100 pemakaman sehari, dan kehabisan ruang.

"Kami mencoba mengakomodasi kremasi di jalan setapak dan di mana pun kami dapat menemukan tempat, tetapi jenazah itu terus berdatangan," kata koordinator Jitender Singh Shanty, dengan sorban kuning, jas hazmat biru yang ia gunakan.

"Kami harus meminta pihak berwenang untuk mengizinkan kami memperluas fasilitas ke tempat parkir," kata Sikh.

 

Komentar Via Facebook :